Cari Blog Ini

Minggu, 06 Maret 2011

indonesia dan pragmatisme

Kebijakan ekonomi Indonesia selama ini adalah pragmatis. Indonesia tidak bisa dikatakan
berasas neoliberal (neolib) hanya karena perekonomiannya lebih terbuka. Pengamat ekonomi
sekaligus Staf Khusus Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan itu dalam diskusi
Boedionoiiiics Antara Neolib dan Ekonomi Kerakyatan di Jakarta, kemarin. "Kebijakan
Indonesia selalu pragmatis karena pengambilan keputusannya berdasarkan materi," kata dia.
Ia mencontohkan kebijakan pragmatis yang diimplementasikan 1973-1974, saat perekonomian
Indonesia memberatkan pada pembangunan sektor domestik.
"Contohnya adalah membangun BUMN (badan usaha milik negara) strategis seperti Krakatau
Steel. Pemerintah saat itu punya uang banyak karena tingginya harga minyak. Jadi bisa
membangun BUMN."
Namun, hal tersebut berubah pada 1985, saat harga minyak jatuh. Pemerintah saat itu
me-lakukan deregulasi sebagai buntut dari turunnya harga minyak. Subsidi dipotong ataupun
BUMN diperkecil.
Sementara itu, setelah reformasi, pemerintah melaksanakan kebijakan ekonomi yang lebih
terbuka sehingga disebut-sebut neolib.
"Padahal, apa sih sebenarnya neolib? Neolib biasanya selalu dikaitkan dengan Konsensus
Washington yang memberikan peranan sangat besar kepada pasar. Biasanya subsidi
dikurangi, liberalisasi perdagangan.dan privatisasi BUMN."
Menurut Chatib, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009, pos subsidi
mencapai 25%. Jumlah itu lebih besar daripada pembayaran biaya utang yang mencapai 13%.
Pos terbesar kedua dalam APBN adalah pendidikan yang mencapai 20.
"Subsidi ditambah anggaran pendidikan sudah mencapai 45%, ini membuktikan peranan
negara tetap tinggi," katanya. Jikapun pemerintah mencabut subsidi BBM, pemerintahakan
menggantinya dengan program beras untuk orang miskin dan bantuan langsung tunai (BLT).
Chatib juga menegaskan privatisasi BUMN tidak bisa menjadi indikator paham neolib. Tapi jika
ada yang bersikukuh privatisasi adalah simbol neolib, seharusnya menengok kebijakan
ekonomi sejak 2001. "Kebijakan ekonomi dari 2001 sampai sekarang tidak berubah drastis.
Karena itu, orang tidak mengerti apa itu neoliberalisme."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar